Pernah merenungkan,apakah anak cucu kita kelak masih bisa menikmati keindahan dunia atau malah hanya akan menjadi korban kekeliruan perilaku kita terhadap alam? pernahkah berfikir apakah esok langit akan tetap cerah dengan awannya yang putih,dan siluet biru yang membentang di cakrawala. Atau esok hanya akan melihat awan hitam dan warna pucat yang menghias hari-hari penuh dengan polusi.
Sekarang iklim semakin sulit diprediksi. Ketika di pulau Jawa orang mulai berteriak kekurangan air,di belahan Indonesia lain justru orang sedang menangis menghadapi hujan dan banjir. Perubahan iklim bukan hanya terjadi di Indonesia,tapi di seluruh dunia sedang terjadi perubahan iklim dan itu membuat orang menderita. Untuk itulah kemudian orang mulai mengingatkan pentingnya kita menjaga lingkungan. Semua orang diajak ikut mengontrol dampak dari rumah kaca atau dampak dari pemanasan global,yang disebabkan menipisnya lapisan ozon yang dapat mengakibatkan mencairnya es di kutub. Yang dampaknya adalah bisa tenggelamnya seluruh daratan dan kepunahan makhluk hidup termasuk manusia.
Pertanyaannya,cukupkah imbauan itu mengentakan kesadaran kita untuk ikut menjaga lingkungan? Kita harus jujur menjawab “Tidak.” Hanya sekedar imbauan akan sulit untuk membangkitkan kesadaran, kita harus kembali pada diri kita masing-masing dimana Tuhan memberi sebuah tanggung jawab pada kita selaku sepesies tertinggi di muka bumi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Sekarang ini boro-boro kita bicara soal lingkungan, urusan perut saja belum terselesaikan. Tidak usah heran apabila orang lalu lebih memikirkan dirinya sendiri. Tanpa peduli apa akibatnya, demi mempertahankan hidup, semua merasa boleh melakukan apa saja.
Bayangkan, ketika seluruh dunia menghawatirkan perubahan iklim dan berfikir bagaimana caranya untuk bisa menjaga lingkungan, di Indonesia masih terjadi penebangan pohon secara besar-besaran. Anehnya, kita tidak berbicara bagaimana hal itu bisa terjadi dan bagaimana menghindarinya, kita malah memperdebatkan apakah itu pencurian atau bukan.
Sekarang alam sudah rusak, alangkah baiknya kalau kita bersama mulai menjaga alam dari kerusakan yang lebih parah. Bagaimana caranya? pertanyaan yang harus dijawab oleh hati kita,oleh kesadaran kita.
Sekarang kita bayangkan, lebih dari 1.000.000 orang Indonesia mengkonsumsi rokok tak perduli itu orang tua, anak muda, pria, atau wanita. Dan setiap asap yang dikeluarkan itu sangat berbahaya bagi manusia maupun alam. Sadarkah kita kalau saat kita merokok itu adalah saat kita merusak kehidupan? kita harus jujur lagi dengan menjawab “tidak.” Kalau begitu kapan kita akan sadar? apakah nanti setelah tsunami datang, ataukah nanti setelah banjir, atau mungkin nanti saat kutub mencair?
Saat-saat itu adalah sudah terlambat, yang ada mungkin hanya tangisan penyesalan. Untuk sadar adalah saat ini, jika Anda membaca tulisan ini masih merokok berarti Anda belum sadar. Untuk anak-anak muda Indonesia, semoga kalian sadar akan bahaya dari sebatang rokok. Dan jangan ingin disebut “GENERASI PARU-PARU BOLONG.” Tak ada yang perlu dibanggakan dari sebatang rokok, jaman sekarang merokok sudah ketinggalan zaman, dan jangan biarkan diri kalian ketinggalan di zaman asap nikotin.
Mungkin susah untuk meninggalkan semua itu, tapi kalau dipikir secara nalar daripada uang itu untuk membeli rokok alangkah lebih baik kalau uang itu kita gunakan mungkin untuk membeli beras, pakaian anak, biaya sekolah anak, membeli susu untuk pertumbuhan anak, ditabung untuk masa depan, membantu orang yang membutuhkan, membeli peralatan sekolah, ditabung untuk membuka usaha. Dan semuanya itu tak ada yang sia-sia.
Perubahan iklim bukan hanya karena faktor dari polusi udara, tapi juga dari pencemaran lingkungan oleh sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Bukankah waktu masih duduk dibangku taman kanak-kanak Anda diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, dan sekarang Anda bukan anak-anak yang harus diajari lagi.
Perubahan iklim yang sangat drastis akan sangat membahayakan kita semua sebagai umat manusia. Dampaknya bisa langsung, yakni terhadap tubuh kita yang akan dipaksa untuk bisa menyesuaikan diri terhadap cuaca yang berubah secara drastis. Keadaan yang menakutkan itu sedang terjadi dan kita tidak bisa tidak peduli.
SO…SAVE THE WORLD!!