Ekspedisi Bengawan Solo selama 16 hari dan menempuh jarak 548 kilometer membuka kembali kesadaran kita akan peran sungai bagi kehidupan manusia.
Sungai memang merupakan pusat peradaban. Di sanalah manusia membangun kehidupannya, dan di sepanjang Bengawan Solo ditemukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan politik, sosial, ekonomi, serta budaya masyarakat sejak masa lampau.
Bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang pandai mengelola sungainya. Itu sangatlah wajar karena dengan sungai yang terkelola secara baik, masyarakat di sekitar akan bisa mendapatkan manfaat yang optimal, yakni air sebagai sumber kehidupan.
Pertanyaan sekarang, apakah kita masih peduli dengan sungai?Inilah yang sering kita prihatinkan. Kita seperti tidak menyadari bahwa sungai merupakan andalan bagi kita untuk merajut masa depan. Pemahaman kita, sungai merupakan tempat pembuangan limbah bersama sehingga kita boleh membuang segala sesuatu ke sana.
Akibatnya kita rasakan bersama, sungai-sungai mengalami degradasi. Kualitas air yang ada di sungai juga menurun drastis sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara baik bagi perbaikan kualitas kehidupan kita.
Sebaliknya, sungai kemudian kita lihat sebagai sebuah ancaman. Banjir yang kita rasakan setiap tahun kita persalahkan karena perilaku sungai. Tidak pernah kita berani untuk mengatakan bahwa perilaku kita yang keliru itulah yang membuat aliran sungai menjadi tidak terkendali dan kemudian menyebabkan banjir.
Sebelum terlambat, tugas dan tanggung jawab dari kita semua untuk menjaga sungai yang ada. Untuk itu dituntut adanya sistem manajemen air yang lebih baik.
Pengalaman banyak negara menunjukan, manajemen air yang baik bisa memberi manfaat yang besar bagi kehidupan sebuah bangsa. Bangsa Brasil mendapat manfaat besar dari Sungai Amazon, bangsa Mesir diuntungkan oleh sungai Nil, bangsa China mengoptimalkan benar sungai Yangtze. Manajemen air yang mereka lakukan bukan hanya membuat banjir bisa lebih dikendalikan, tetapi manfaat ekonomi baik untuk alat transportasi maupun listrik tidak terkira manfaatnya.
Bagaimana tidak menakjubkan apabila dari sungai Yangtze dan bendungan Three Gorges yang dibangun bisa dihasilkan tenaga listrik sebesar 23.000 MW. Sementara, kita negri yang dikenal banyak air, memiliki curah hujan yang relatif lebih tinggi, hari-hari ini justru sedang dihadapkan pada kekurangan pasokan masalah listrik.Dan negri yang katanya kaya dengan sumber daya alam ini ternyata hampir 50% penduduknya tidak mempunyai akses untuk bisa mendapatkan air bersih (Data Susenas 2004).
Tidak ada alasan bagi negri ini sebenarnya untuk terbelenggu dalam masalah yang mendasar seperti ini.Kalau sekarang itu terjadi,maka jawabannya karena kita tidak dekat lagi dengan alam.Kita tidak peduli dengan alam yang menopang kehidupan kita ini.Inilah yang harus segera kita perbaiki kalau kita masih menginginkan masa depan.
KOMPAS 23 Juni 2007 —ditulis kembali oleh Adie